Mengenai Saya

Foto Saya
Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia
Selamat datang di dunia pendidikan,, karena belajar itu indah

Minggu, 23 Oktober 2011

Reproduksi Anjing


BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang
Setiap makhluk hidup tentunya akan selalu berusaha untuk meneruskan keturunannya. Reproduksi atau berkembang biak merupakan kemampuan suatu organisme untuk menghasilkan keturunan atau organisme baru agar kelestarian jenisnya tetap terjaga. Reproduksi atau perkembangbiakan yang terjadi pada makhluk hidup dibedakan menjadi dua yakni secara kawin (seksual atau generatif) dan secara tidak kawin (aseksual atau vegetatif). Seperti halnya sistem organ lain, sistem reproduksi pada manusia juga terdiri atas beberapa organ.
Sistem reproduksi anjing mirip dengan sistem reproduksi wanita. Anjing (Canis lupus familiaris) adalah mamalia karnivora yang telah mengalami domestikasi dari serigala sejak 15.000 tahun yang lalu atau mungkin sudah sejak 100.000 tahun yang lalu berdasarkan bukti genetik berupa penemuan fosil dan tes DNA.  Secara umum sistematika organ reproduksi anjing dan hampir sama dengan mamalia lain yang terdiri atas testis, saluran kelamin dengan kelenjar  kelamin dan alat kopulasi (penis). Saluran-saluran kelamin terdiri vas eferens, epididimis dan vas deferens sedangkan  kelenjar-kelen­jar kelamin hanya terdiri dari kelenjar prostat  Organ primer (testis) berjumlah  dua buah yang terdapat di dalam kantong luar  yang disebut skrotum.
Pubertas atau siklus estrus pertama pada anjing betina dicapai paling awal pada usia enam bulan pada anjing ras dengan ukuran tubuh kecil, dan paling lama pada usia dua tahun pada anjing ras dengan ukuran tubuh yang lebih besar. Siklus estrus anjing terdiri dari proestrus, estrus, metestrus dan anestrus.
B.  Tujuan
1. Untuk mengetahui alat-alat reproduksi anjing (Canis lupus familiaris), baik jantan maupun betina.
2. Untuk mengetahui siklus seksual pada anjing (Canis lups familiaris).
3. Untuk mengetahui hormon-hormon seksual pada anjing (Canis lupus familiaris).
4. Untuk mengetahui bagaimana tingkah laku reproduksi pada anjing.
C.  Manfaat
1. Mahasiswa mengetahui alat-alat reproduksi pada anjing, baik anjing jantan maupun anjing betina.
2. Mahasiswa memahami bagaimana siklus seksual pada anjing.
3. Mahasiswa mengetahui hormon-hormon seksual pada anjing.
4. Merupakan ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengetahui bagaimana tingkah laku reproduksi pada anjing.


D.  Rumusan Masalah
1. Apa saja alat-alat reproduksi pada anjing?
2. Berapa macam kah siklus seksual pada anjing dan bagaimana periode siklus-siklus tersebut?
3. Hormon-hormon apa saja pada anjing yang ikut terlibat dalam aktifitas organ reproduksi?
4. Bagaimanakah tingkah laku reproduksi pada anjing?

BAB II
PEMBAHASAN


A.  Alat Reproduksi pada Anjing
Anjing yang termasuk hewan vertebrata berkembang biak atau bereproduksi secara kawin (seksual). Anjing tergolong makhluk hidup yang memiliki jenis kelamin terpisah, yaitu jantan dan betina. Organ-organ penyusun alat reproduksi pada jantan berbeda dengan betina, berikut uraiannya.
1.  Alat Reproduksi Jantan
Alat reproduksi jantan terdiri atas alat kelamin luar dan alat kelamin dalam.
a.  Alat kelamin luar
Alat kelamin luar jantan berupa penis dan skrotum.  Penis pada anjing terbagi atas tiga bagian yaitu bagian pangkal, badan dan ujung tudung (glans) penis. Ukuran penis sangat pendek dan bagian pangkal penis anjing dapat membesar seperti balon bila mengalami ereksi. Preputium merupakan selubung bagian ujung anterior penis, selubung ini merupakan suatu  lipatan kulit. Selaput lendir dari preputium ini berkelenjar dan sekresinya bersifat lemak, sekresi kelenjar ini  bercampur dengan epitel yang  rusak sehingga berbau merangsang yang disebut  smegma  prepusium. Muara   luar   prepusium disebut orificium praeputii. Penis berfungsi sebagai alat untuk kopilasi dan untuk melepaskan sel-sel kelamin jantan (sperma) ke dalam salauran kelamin betina.
Sementara itu, skrotum adalah kantong pembungkus testis. Fungsi dari skrotum adalah mengatur  perubahan temperatur skrotum sehing­ga  proses  spermatogenesis dapat berlangsung secara normal dan melindungi  testis  dari   gangguan-gangguan  luar  berupa pukulan, panas, dingin, serta gangguan mekanis lainnya.  Terhadap  temperatur luar  testis, skrotum  melindungi testis, dengan jalan mengedurkan  dan  mengkontraksikan  muskulus kremaster testis. Pada keadaan temperatur luar dingin, dinding skrotum mengeriput, muskulus  kremas­ter  berkontraksi dan testis tertarik, lebih dekat dengan tubuh, hal  ini  perlu  agar  tidak banyak panas  yang terbuang. Apabila udara disekeliling panas, otot-otot skrotum relaksasi (mengendur)  dan skrotum menggantung menjauhi tubuh, dengan demikian memungkinkan banyak panas  yang terbuang. Keseluruhan Ini merupakan  proses termoregulasi skrotum. Suhu di dalam kantong skrotum 1-8 oF lebih rendah dari pada suhu di rongga perut. Pengendoran dan pengerutan dari skrotum ini terjadi setelah masa dewasa tercapai.



b.  Alat Kelamin Dalam
Alat kelamin dalam tersusun atas kelenjar kelamin (testis),  kelenjar aksesoris, dan saluran kelamin jantan.
1)  Kelenjar kelamin (Testis)
Secara anatomi, testis pada anjing berbentuk bulat sampai oval dan berada di dalam srotum dengan bagian aksis memanjang kearah dorso caudal. Testis mengandung tubulus seminiferus yang merupakan saluran membelit yang berisi sel-sel spermatogenik dan sel-sel sertoli yang secara berurutan memproduksi dan member makan spermatozoa. Spermatozoa keluar dari tubulus seminiferus melalui tubulus yang lurus ke rete testis di mediastinum testis kemudian kedalam duktus epididimis. Disela-sela sepanjang interstitium ada sel-sel interstitial atau sel leydig yang bertanggung jawab untuk produksi testosterone. Testis terdiri dari tiga kompartemen fumgsional yaitu:
a)  Komparteme interstisial. Pada kompartemen ini mengandung pembuluh-pembuluh darah, sel-sel leydig dan jaringan penyokong yang berfungsi untuk mensuplai tubulus seminiferus dengan hormone dan nutrisi.
b)   Kompartemen basal. Kompartemen ini mengandung spermatogonia dan sel-sel sertoli.
c)   Kompartemen adluminal. Kompartemen ini mengandung perkembangan spermatozoa.
Testis mempunyai dua fungsi utama, yaitu spermatogenesis dan produksi dan sekresi hormone. Sekresi hormone terjadi dalam kompartemen jaringan interstitial testis yang terdiri dari sel-sel leydig yang secara berdekatan berhubungan dengan pembuluh darah dan limfatik. Sel-sel leydig adalah salah satunya sel-sel testicular dengan reseptor untuk LH.  LH akan berikatan dengan reseptor pada sel-sel leydig dan akan merespon dan mensintesa beberapa steroid termasuk testosterone. Testosterone diperlukan untuk perkembangan karakteristik sekunder, tingkah laku normal, fungsi glandula assesoris, produksi spermatozoa dan penjagaan system duktus hewan jantan. Testosterone berperan dalam mekanisme umpan balik (feed back) pada pituitary mengontrol sekresi gonadotropin LH dan FSH. Pembentukan androgen-binding protein dalam sel-sel sertoli distimulasi oleh FSH. Pengikatan Testosteron ke protein akan menjaga konsentrasi intratestiler testosterone yang diperlukan untuk spermatogenesis.       
2)  Kelenjar Aksesoris
Anjing hanya mempunyai kelenjar prostat yang berkembang sempurna terletak pada leher vesika urinaria dan kelenjarnya bermuara pada uretra. Fungsi kelenjar prostat, menambah cairan alkalis pada cairan seminalis berguna untuk melindungi spermatozoa terhadap tekanan yang terdapat pada uretra.
3)  Saluran Kelamin
Saluran kelamin terdiri dari :
a)  Epididimis
Epididimis   adalah saluran kelamin yang terletak dekat testis dan merupakan saluran yang berkelok-kelok. Bagian dari epididimis adalah kaput epididimis berbentuk seper­ti huruf U, pipih dan terletak di bagian proksimal dari testis, korpus epididimis mengarah ke distal dan terdapat pada bagian posterior testis, dan kauda epididimis terletak di  bagian  distal  testis, bentuknya   agak  lonjong  sebesar ibu jari. Saluran yang meninggalkan kauda epididimis disebut  vas deferens. Fungsi  dari epididimis adalah: transpor, penyerapan air, pendewasaan dan  penyimpanan  sperma. Fungsi dari epitel epididimis adalah untuk absorbsi cairan asal sel Sertoli dan sebagian  untuk sekretoris.



b)  Vas eferens
Vas eferens berfungsi membawa sel-sel sperma dari testis menuju kantung sperma (epididimis).
c)  Vas deferens
Vas deferens atau ductus deferens berfungsi mengangkut sperma dari ekor epididimis ke urethra. Dindingnya mengandung otot-otot licin yang penting dalam mekanisme pengangkutan semen waktu ejakulasi. Diameternya mencapai 2 mm dan konsistensinya seperti tali.
d)  Uretra
Uretra adalah saluran yang terdapat di dalam penis. Uretra merupakan saluran akhir dari saluran reproduksi. Uretra terdapat di dalam penis. Saluran ini mempunyai dua fungsi, yaitu : (1) sebagai alat pengeluaran, yaitu saluran untuk membuang urine keluar tubuh serta (2) sebagai saluran kelamin, yaitu sebagai saluran semen dari kantong mani.







a.        Alat Reproduksi BetinaAlat Kelamin Dalam
1)  Ovarium
Ovarium  berfungsi ganda yaitu sebagai alat tubuh yang memproduksi sel kela­min  betina  yaitu ovum dan hormon-hormon kelamin  betina yaitu estrogen dan progesteron. Ovarium merupakan organ reproduksi primer yang berfungsi menghasilkan hormon yaitu hormon estrogen, progesteron dan relaksin. Hormon ini berperan penting pada alat-alat reproduksi untuk memelihara kebuntingan sampai melahirkan. Ovarium terletak dibagian dorsal abdomen sampai ke ginjal kira-kira daerah vertebrae lumbalis ketiga dan keempat. Tiga macam hormon yang dihasilkan oleh kelenjar ovarium:
*        Estrogen : zat yang menyebabkan birahi pada hewan betina, dan menstimulir pertumbuhan alat kelamin serta menyebabkan pertumbuhan sifat – sifat kelamin sekunder pada hewan betina.
*         Progestron : hormone yang dihasilkan korpus luteum dan memmpunyai fungsi yang berhubungan dengan pertumbuhan sel – sel endometrium sebelum dan selama hewan bunting. Bersama dengan prolaktin menyebabkan perkembangan system alveolar dari kelenjar mammae tetapi menghambat perkembangan folikel.
*        Relaksin hormon yang dihasilkan pada akhir masa kebuntingan menyebabkan relaksasi simphisis pubis. Hormone ini ditemukan pada ovarium, uterus dan tenunan plasenta.
2)  Oviduct
Tuba  fallopii terdiri dari infundibulum berikut  fim­bre,  ampula  dan  ismus. Tuba fallopii digantung  oleh alat penggantung yang disebut mesosalping yang berasal dari mesovarium.  Tuba  fallopii   berfungsi sebagai  alat dan tempat   memindahkan sel telur dan sperma ke tempat fertilisasi, pembuahan, kapasitasi sperma dan tempat pembelahan zigot. Cairan  yang mengisi lumen tuba fallopii berasal  dari sekresi sel-sel epitel.  Cairan ini penting untuk memberi lingkungan  yang baik pada proses pembuahan dan bagi  per­kembangan  sigot selama pembelahan.  Dalam keadaan  birahi jumlah  cairan ini akan meningkat.
3)  Uterus  (Rahim)
Tipe uterus anjing adalah duplex, yang terdiri dari dua kornu uteri masing-masing dengan saluran vagina.. Rahim  merupakan bagian caudal tuba  fallopii  yang terdiri dari  sepasang tanduk rahim (kornua uteri), badan rahim (korpus  uteri), dan   leher  rahim (Servik uteri).  Rahim  berfungsi sebagai  alat  dan  tempat  untuk   transport sperma  ke dalam tuba fallopii,  memberi makan blastosis,  pembentukan  plasenta, perkembangan  embrio/fetus  dan kelahiran anak.
b.        Alat Kelamin Luar
Vulva merupakan ujung akhir dari alat kopulasi pada hewan betina dan bersatunya kedua labia vulva membentuk comissura dorsalis dengan bentuk bulat dan ventral yang bentuknya meruncing. Labia vulva menyerupai menyerupai labia minora pada manusia. Permukaan luar berambut dan  berkelenjar.  Comissura ventralis yang menggantung melalui ischium dan pada daerah tersebut ditemukan klitoris. Klitoris terletak  di belahan  ventral  vestibulum yang pada masa embrional berasal   dari penis.   Klitoris mengandung jaringan  erektil,  epitelnya pipih banyak  lapis dan kaya dengan  ujung-ujung  serabut saraf sensoris.
B.  Siklus Seksual pada Anjing
Anjing betina memiliki dua periode birahi dalam setahun, setiap enam bulan dengan jangka waktu 2-3 minggu tiap periodenya. Birahi pertama muncul antara bulan ke 6-15 setelah kelahiran, anjing dapat dikawinkan sejak saat ini. Pada anjing ras besar munculnya birahi pertama akan lebih lama karena waktu pertumbuhan yang lebih lama Anjing betina memiliki tipe ovulasi spontan, hal ini berarti ovulasi tidak dipengaruhi kapan dikawini. Periode ini tampak setiap 6 bulan. Estrus/birahi yang terlambat atau dipercepat tidaklah aneh. Durasi dari siklus ini bervariasi tiap hewan dan bergantung pada ras, tetapi selalu diantara 150-300 hari. Siklus estrus ini terdiri atas empat fase: proestrus, estrus terdapat pada saat estrus, diestrus dan anestrus adalah fase istirahat seksual. Tingkah laku, fisiologi dan anatomi akan berbeda-beda pada tiap-tiap fase estrus.
1.  Proestrus
 Fase dengan lama 7-10 hari mengindikasikan awal dimulainya estrus, ciri fase ini ditemukan tetesan darah dan vulva yang menebal. Pada fase ini pejantan akan tertarik kepada betina, tetapi betina akan menolak saat dinaiki. proestrus berhubungan dengan pembentukan folikel yang distimulasi oleh hormon- hormon gonadotropin LH dan FSH, yang disekresikan oleh glandula pituitary anterior dibawah pengaruh hipotalamus GnRH. Level FSH dan LH rendah sepanjang proestrus, meningkat saat preovulatori. FSh diperlukan untuk menstimulasi perkembangan folikel dan sekresi estradiol, tetapi sekresi FSH tidak meningkat seperti yang terlihat pada LH karena folikel menskresikan ‘inhibin’, inhibitor dari sekresi FSH. FSH juga berperan sangat penting dalam pendewasaan folikel dan menyediakan sel – sel tersebut untuk konversi pada korpus luteum sesudah ovulasi. Proses ini adalah kunci yang terpenting dalam siklus anjing betina karena ada peningkatan dalam sekresi progesterone oleh folikel sebelum ovulasi, yang muncul dan bermain di pusat dalam memacu estrus dan ovulasi. Level estrogen meningkat setelah LH mencapai level puncak, dan progesterone meningkat (biasanya 4-10 ng/mL saat ovulasi) yang menandakan fase luteal dari siklus ovarium.
2.  Estrus
 Estrus merupakan tahap berikutnya dari siklus estrus pada anjing betina. Estrus dapat didefinisikan sebagai transisi dari tingkah laku menarik ( tetapi tidak mau menerima pejantan (karakteristik proestrus) ke tingkah laku siap untuk dinaiki dan mau menerima. Fase ini berlangsung selama kurang lebih 9 hari (dengan kisaran 4-12 hari). Secara hormonal, estrus dimulai dengan mulai naiknya hormon progresteron. Ovulasi dan masa subur terjadi pada periode ini.
Feromon merupakan komponen penting dalam masa transisi ini. Feromon disekresikan oleh anjing betina di bawah pengaruh estradiol dan terdeteksi oleh olfaktori anjing atau organ “vemeronasal”. Feromon diproduksi di ginjal dan saluran reproduksi dan bercampur dengan urin atau ada di leleran vagina. Bersamaan dengan tanda-tanda tingkah laku, feromon meningkatkan daya tarik seksual dan menstimulasi aktifitas reproduksi pejantan. Salah satu feromon betina adalah methyl-p-hydroxybenzoate, dan jika komponen ini diterapkan ke vulva dari betina anestrus ataupun yang sudah dikebiri, tetap akan menstimulasi kegairahan. Feromon dapat juga untuk memacu estrus atau berpengaruh pada sinkronisasi estrus betina, khususnya di lingkungan kennel. Ini menunjukkan bahwa feromon dapat mempengaruhi aktivitas pusat GnRH di hipotalamus yang akan menyebabkan peningkatan aktivitas ovarium.
Pusat tingkah laku di otak pada betina muncul sebagai akibat meningkatnya kadar estradiol. Anjing betina menunjukkan ketertarikan pada pejantan dan mencoba untuk menarik perhatiannya. Dia memutar pinggang dan kaki belakang ke arahnya, merendahkan bagian belakang dan menaikkan bagian pelvis, menunjukkan bagian perineal, menggerakkan ekornya ke samping dan menonjolkan vulvanya.
3.  Diestrus /Metestrus
Tahap metestrus dimulai ketika anjing betina berhenti menerima pejantan. Untuk memperbaiki fungsi endometrium lamanya fase ini adalah selama 110-140 hari. Fase ini terjadi setelah estrus, dan didefinisikan sebagai dimulainya sewaktu betina menolak untuk dikawini. Konsentrasi Progesteron meningkat di tahap ini. Periode kebuntingan masuk dalam tahap ini.  Berbeda dengan mamalia yang lain, corpus luteum pada anjing tidak mengalami luteolisis (pada betina yang tidak hamil). Setelah ovulasi, corpus luteum terisi sel-sel lutein. Corpus luteum berhenti menjalankan fungsinya lebih jelas pada betina hamil karena adanya kerja prostaglandin akibat inisiasi kelahiran.
4.  Anestrus
Tahap terakhir dalam siklus estrus adalah anestrus. Ini merupakan masa dimana kadar hormon progesteron dan estrogen sangat rendah walaupun akan mengalami sedikit peningkatan dan kemudian menurun kembali. Fase anestrus pada siklus estrus normalnya terjadi selama 1 – 6 bulan. Ditandai dengan inaktivitas ovarium, involusi uterus dan perbaikan endometrium. Anjing betina yang anestrus tidak tertarik ataupun menerima anjing jantan. Tidak ada leleran vulva, ukuran vulva kecil. Sitologi vaginal didominasi oleh sel parabasal kecil, terkadang disertai neutofil dan sedikit bakteri. Secara endoskopi, lipatan mukosa vagina terlihat datar, tipis dan kemerahan. Pada anestrus terjadi kemerosotan dari fungsi luteal serta penurunan sekresi prolaktin. Akhir anestrus ditandai dengan peningkatan FSH dan LH yang dipengaruhi oleh GnRH. Peningkatan FSH ini menyebabkan folikulogenesis proestrus.
C.  Hormon Seksual pada Anjing
Kegiatan seksual anjing juga dipengaruhi oleh hormon yang akan mengontrol setiap aktifitas organ reproduksi, yaitu :
1.         Estrogen. Hormon ini disekresikan oleh ovarium selama estrus, berfungsi untuk menstimulus hypothalamus mensekresikan hormon lain yang akan mendorong terjadinya ovulasi.
2.         Progesteron. Hormon ini disekresikan oleh yellow body (badan kuning) pada saat terjadi ovulasi, hormon ini sangat diperlukan untuk memelihara kebuntingan.
3.         Gonadotropin. Merupakan hormon yang disekresikan oleh glandula hipofise, berupa FSH untuk menstimulus pertumbuhan folikel dan penghentian proses pematangan, LH mennyebabkan ovulasi.
4.         Oxytosin. Hormon yang disekresikan oleh glandula yang sama dengan FSH, menyebabkan dilatasi jaringan pada saat kelahiran, digunakan juga untuk memacu kelahiran.
D.  Tingkah Laku Reproduksi pada Anjing
Anjing jantan mulai beranjak dewasa kelamin atau siap kawin (sexually mature) pada umur sekitar 6 bulan. Pada umur tersebut, tingkah laku seksual anjing tidak beraturan, anjing dapat kawin kapan saja dan dimana saja. Anjing betina sampai pada umur siap kawin, yakni pada umur sekitar 9 bulan, jauh lebih lama dibandingkan anjing jantan, dan secara teratur berulang setiap 6 bulan sesudahnya. Jauh sebelum saat birahi tiba, anjing betina telah menarik perhatian anjing-anjing jantan. Pada saat ini alat kelamin betina telah menunjukkan tanda kemerahan dan pembengkakan vulva, keluarnya sekreta dari alat kelamin. Pada saat ini telah mau didekati anjing jantan tetapi tidak bersedia untuk kopulasi. Periode ini dikenal dengan periode proestrus yang lamanya dapat terjadi 7 – 9 hari kemudian disusul dengan periode birahi yang sejati, anjing betina telah bersedia berkopulasi lamanya antara 5 – 12 hari. Selama proestrus, vulva mengalami pembengkakan yang cukup besar dan terjadi peningkatan aliran darah.
Masa birahi pertama anjing betina biasanya jarang diketahui karena gejalanya tidak begitu jelas, sehingga sering betina menjadi bunting tanpa diketahui oleh pemiliknya. Pada masa birahi ke dua dapat terlihat jelas saat genitalianya mengeluarkan aroma khas diiringi dengan pengeluaran darah yang makin lama semakin banyak. Ovulasi anjing secara spontan selama setelah 3-4 hari gejalah birahi muncul.
Anjing betina memperlihatkan suatu posisi khas dengan punggung yang direntangkan dan ekor diangkat  ke satu arah saja. Anjing betina memperlihatkan posisi tersebut pada periode akhir proestrus. Kopulasi pada anjing juga sangat khas, setelah menaiki betina maka pejantan ini akan mengadakan gerakan-gerakan penetrasi dan saat itu pada pangkal penis membesar menyerupai balon (baculum) sehingga dapat menyumbat alat kelamin betina. Vulva betina juga mengadakan penjepitan-penjepitan sebagai  akibat dari spincter vulva yang kontraksi sehingga penis tidak dapat terlepas dari vulva. Pejantan kemudian berusaha melepaskan diri dan mengadakan gerakan ke samping, belakang dan turun dari tubuh betina. Pada periode berikut pejantan akan berusaha menaiki betina lagi sehingga dari gerakan tersebut mengakibatkan penis pejantan dapat lepas dari alat kelamin betina.
Anjing mempunyai tiga fraksi dalam proses ejakulasi, yaitu :
1.  Fraksi pertama ketika anjing pertama naik dan menggerak-gerakan ke depan dan belakang. Cairan ejakulasi yang dihasilkan sebanyak 1 ml yang terdiri dari cairan asesoris dan sedikit spermatozoa.
2.  Fraksi ke dua ketika pejantan mengadakan gerakan ke samping dan menghasilkan cairan ejakulasi sebanyak 1 ml yang terdiri sebagian besar sel spermatozoa.
3.  Fraksi ke tiga ketika pejantan mengadakan gerakan menaiki kembali betina dan menghasilkan cairan ejakulasi sebanyak 5 ml yang terdiri sebagian besar dari cairan asesoris (kelenjar prostate). Seluruh proses kopulasi memerlukan waktu antara 10 hingga 20 menit.
Proses perkawinan dari anjing ada penampakan yang cukup menarik, yaitu pada saat anjing jantan mengalami ejakulasi, penis akan tertahan di dalam vagina betina (terkunci) untuk waktu yang cukup lama sekitar 20-30 menit, dengan posisi berdiri dan saling membelakangi. Pada saat anjing dalam posisi “saling membelakangi” ini sebaiknya jangan mencoba untuk dipisahkan, karena justru akan terjadi kelukaan pada alat kelamin dari anjing jantan maupun anjing betina.
Perkawinan dapat terjadi dalam empat hari pertama dan akan menghasilkan konsepsi yang tinggi jika perkawinan dilakukan pada hari pertama dan ke tiga.  Pada anjing yang selama periode birahi tidak melakukan perkawinan dapat mengakibatkan kebuntingan semu (pseudo pregnant).  Gejala bunting semu antara lain korpus luteum berkembang, rahim bertambah besar, kelenjar ambing mengalami prolifersi tetapi perut tidak membesar seperti hewan bunting.

BAB III
PENUTUP


Kesimpulan
1.  Alat reproduksi jantan yakni terdiri dari alat kelamin luar (penis dan skrotum) dan alat kelamin dalam yang tersusun atas kelenjar kelamin (testis), kelenjar aksesoris (Kelenjar prostat), dan saluran kelamin. Sedangkan alat reproduksi betina terdiri atas ovarium, oviduct, uterus, vagina, dan vulva.
2.  Siklus seksual pada anjing terdiri atas empat fase yakni fase proestrus, fase estrus, fase diestrus/metestrus, dan fase anestrus.
3.  Hormon yang mengontrol setiap aktifitas organ reproduksi yaitu hormon estrogen, progesteron, gonadotropin, oxytosin, dan prolaktin.
4.  Tingkah laku seksual anjing tidak beraturan, anjing dapat kawin kapan saja dan dimana saja. Anjing betina memperlihatkan suatu posisi khas. Kopulasi pada anjing juga sangat khas, setelah menaiki betina maka pejantan ini akan mengadakan gerakan-gerakan penetrasi dan saat itu pada pangkal penis membesar menyerupai balon (baculum) sehingga dapat menyumbat alat kelamin betina.

DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2011. Reproduksi Anjing. http://petkartini.comxa.com/news/?read=397
Anonim. 2011. Mengenal Reproduksi Anjing. http://www.anjingdankucing.com/news/?read=79

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar