Mengenai Saya

Foto Saya
Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia
Selamat datang di dunia pendidikan,, karena belajar itu indah

Minggu, 23 Oktober 2011

Reproduksi Hiu



  1. Alat Reproduksi
1.    Jantan
a. Morfologi
Claspers merupakan modifikasi dari sirip perut dan hanya terdapat pada hewan jantan. Digunakan pada saat kopulasi untuk menyalurkan sperma ke dalam kloaka hiu betina          (http://www. shark.ch).
Sumber : desnaikhsandra.blogspot.com
Pada saat melakukan kopulasi, hiu jantan juga menggigit sirip pectoral hiu betina, prilaku ini sebagai wujud ketertarikan dan juga untuk menahan tubuh hiu betina.
b. Anatomi
Sepasang Testis (internal), saluran kelamin (ductus eferens,  epididymis, ductus deferens, ampulla), papil urogenitalis dan sinus urogenitalis.
Jadi, alat kelamin jantan terdiri atas sepasang testis, terdapat beberapa vasa  efferensia yang menuju vasa defferensia. Saluran tsb terbentang sebelah bawah ginjal & berakhir pada papil urogenitalis. Saluran kemih dan reproduksi bergabung bersama untuk membentuk sinus urogenital (Jasin, 1992)
Terdapat kelenjar leydig, yaitu kelenjar tubular yang bercabang dan terhubung ke bagian caput epididymis dan mengandung sel-sel untuk produksi protein. Selain itu ada hiu juga memiliki vesikula seminalis.

Sumber : http://na.nefsc.noaa.gov/sharks/repro
2.    Betina
a. Morfologi
Sumber: http://www.marinebiodiversity.ca/shark
Betina tidak memiliki claspers. Hanya terdapat kloaka di antara sirip perutnya (pinna pelvicus).
b. Anatomi
Terdiri atas sebuah ovarium yang menggantung sebelah dorsal dengan satu membran. Dua buah oviduk akan menjulur sepanjang tubuh, yang masing-masing pada anterior mempunyai saluran besar dimana sel-sel telur masuk ke dalamnya. Pada bagian anterior masing-masing saluran melebar sebagai glandulae shell. Pada jenis ovovivipar dan vivipar, bagian ini mengalami perluasan menjadi uterus, dan bermuara di kloaka (Jasin,  1992)


Sumber : http://na.nefsc.noaa.gov/sharks/repro.
Pada beberapa spesies, kematangan seksual akan dicapai antara 15-20 tahun.
  1. Mekanisme Reproduksi
Reproduksi Aseksual
Ada beberapa peristiwa yg didokumentasikan dimana hiu betina yang sama sekali tidak pernah kontak dengan hiu jantan artinya hiu betina yg masih perawan namun telah memiliki anak didalam kandungannya. Para ilmuwan menyatakan bahwa reproduksi aseksual hiu di alam liar sangat jarang dan belum diketahui secara jelas. Mungkin aseksual merupakan jalan terakhir ketika pasangannya tidak ada, agar spesies itu tidak punah. Hiu yg pernah ditemukan "virgin birth" ini adalah hiu bambu bertutul putih (Chiloscyllium plagiosum), hiu bonnethead (Sphyrna tiburo) yg merupakan spesies terkecil dari hiu kepala martil, hiu blacktip Atlantik (Carcharhinus limbatus), dan hiu biru (Prionace glauca).
(sumber: en.wikipedia.org/wiki/Shark)

Reproduksi Seksual
Tidak seperti kebanyakan ikan bertulang sejati, hiu melakukan fertilisasi/pembuahan secara internal. Bagian belakang sirip perut hiu jantan termodifikasi menjadi sepasang organ kopulasi yg disebut clasper, fungsinya mirip dengan penis pada mamalia, yang digunakan untuk mentransfer sperma kedalam tubuh betina.

1.    Ovovivipar


Kebanyakan hiu adalah ovovivipar, yang berarti bahwa telur dierami dan menetas didalam oviduk tubuh induknya, dimana kuning telur (yolk) menjadi nutrisi utama embrio. Hiu ovovivipar disebut juga sebagai hiu aplacental vivipar yg berarti melahirkan tanpa plasenta (ari-ari). Hiu ovovivipar ini terbagi tiga tipe.
                        a.      Aplacental variasi kantung yolk
Artinya selama inkubasi emrio di dalam uterus ibunya, mereka mendapatkan makanan hanya dari kuning telurnya saja, tidak memiliki tambahan nutrisi selain dari yolk atau kuning telur. Contoh hiu yg seperti ini adalah hiu sapi (Hexanchidae sp), hiu paus (Rhincodon typus), hiu basking (Cetorhinus maximus), hiu berjumbai (Chlamydoselachus anguineus), hiu dogfish (Cirrhigaleus sp), hiu malaikat (Squatina sp) dan hiu harimau (Galeocerdo cuvier). Hiu dogfish memiliki periode inkubasi terpanjang dari semua jenis hiu yg ada, yaitu 18 sampai 24 bulan. Hiu basking dan hiu berjumbai terlihat memiliki masa inkubasi lebih lama, namun tidak ada data akurat. Dulu hiu paus dianggap ovipar (pernah ditemukan telur sepanjang 36 cm), namun hiu paus kini berkategori hiu ovovivipar, dimana hiu paus betina ditemukan hamil yg berisi ratusan ekor anak.



                        b.      Aplacental dengan uterus villi atau trophonemata
Embrio mendapatkan makanan dari yolk dan juga tambahan dari cairan sekresi histotroph atau dikenal juga dg istilah susu uterus. Biasanya tipe ini banyak ditemukan pada pari, sementara tipe hiu yg seperti ini adalah hiu spinny dogfish (Squalus acanthias), hiu hidung tajam Atlantik (Rhizoprionodon terraenovae), dan hiu smooth-hound hitam (Mustelus sp).



                         c.      Aplacental dengan oophagy dan kanibalisme
Begitu telur menetas, sang anak akan mencari makan. Anak hiu ini akan memakan telur-telur yg belum dibuahi (oophagy) atau bahkan memakan adik-adiknya (kanibalisme). Sehingga pada beberapa jenis hiu sangat sedikit anak hiu yg mampu bertahan sampai kelahiran mereka karena bentuk kanibalisme yg terjadi sebelum mereka keluar. Ini dilakukannya untuk mencapai ukuran relatif besar sebelum dilahirkan. Contoh hiu yg seperti ini adalah hiu harimau pasir/hiu perawat abu-abu (Carcharias taurus), hiu mako (Isurus sp), dan hiu putih besar (Carcharodon carcharias).

Hiu-hiu ovovivipar kebanyakan melahirkan anaknya didaerah aman, seperti teluk, mulut sungai dan daerah karang dangkal. Mereka memilih area tersebut untuk perlindungan dari predator (terutama hiu lainnya). Anak hiu akan berenang jauh begitu lahir, bahkan menjauhi induknya yg mungkin akan memakannya. Mereka sudah mampu hidup mandiri begitu lahir.

2.    Ovipar
Beberapa spesies hiu adalah ovipar seperti ikan pada umumnya, mereka bertelur didalam air. Hiu ovipar memiliki cangkang telur keras atau berupa membran kasar untuk perlindungan untuk perkembangan embrio. Telur hiu (disebut juga "mermaid's purses") akan menetas jika tidak dimakan oleh hewan lain, karena sang induk tidak akan menjaga telur-telurnya. Bentuk telur mereka ada yg seperi kantung sampai berbentuk sekrup (seperti hiu Port Jackson dan hiu bertanduk). Beberapa telur seperti telur hiu kucing memiliki tendril yg memungkinkan telur menempel pada suatu benda di dasar laut. Hiu yg bertelur lainya termasuk  hiu zebra, (Stegostoma fasciatum)  swellshark (Cephaloscyllium ventriosum), hiu karpet berkalung (Parascyllium variolatum), hiu bertanduk (Heterodontus francisci), dan hiu epaulette (Hemiscyllium ocellatum).

Telur berbentuk kapsul


Telur bentuk spiral


Telur dengan tendril agar tetap melekat pada substrat


Telur yang dibuka, tampak embrio hiu dan juga yolk sebagai sumber nutrisinya. Perhatikan kantung kuning telur besar yang memelihara perkembangan embrio di dalam cangkang telur
3.    Vivipar
Pada hiu vivipar, batang yolk berganti menjadi sebuah tali pusar panjang yg menghubungkan embrio dan kantung yolk, dimana kantung yolk ini disebut juga kantung plasenta yolk atau plasenta saja. Plasenta membantu transfer nutrisi dan oksigen melalui aliran darah induknya dan juga mentransfer zat buangan dari bayi ke ke ibunya untuk dibuang.

Bayi Hiu kepala martil dengan plasenta

Embrio yang terhibung dengan plasenta (kiri), tali pusar pada hiu (kanan).

Periode kehamilan bisa sampai dua tahun (sebagian besar tidak diketahui).
Embrio dapat memenuhi semua kebutuhan nutrisi dari transfer induknya ada dua cara:
                      a.      Memperoleh nutrisi langsung melalui jaringan induknya ke jaringan embrio.
                      b.      Dinding uterus induk mengeluarkan "susu uterus". Tali pusar embrio menyerap cairan itu. Ini terjadi pada hiu yg tidak memiliki plasenta.
Contoh hiu vivipar adalah hiu banteng, hiu karang whitetip (Triaenodon obesus), hiu lemon (Negaprion brevirostris), hiu biru (Prionace glauca), hiu salmon (Lamna ditropis), hiu silvertip (Carcharhinus albimarginatus), dan hiu kepala martil (Sphyrna sp).




LITERATUR
Buku:
Jasin, Maskoeri. 1992. Zoologi Vertebrata. Surabaya: Sinar Wijaya
Storer, Tracy I.  General Animal Biology.

Website:
http://na.nefsc.noaa.gov/sharks/repro.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar