Mengenai Saya

Foto Saya
Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia
Selamat datang di dunia pendidikan,, karena belajar itu indah

Rabu, 11 April 2012

Penyerapan Air oleh Biji yang Berkecambah


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Fisiologi tumbuhan adalah salah satu bidang studi yang mengkaji mengenai proses-proses yang terjadi di dalam tubuh tumbuhan, salah satunya yang terjadi pada biji adalah imbibisi, atau penyerapan air oleh biji yang sedang berkecambah. Penyerapan air oleh biji ini (imbibisi) adalah merupakan proses pematahan dormansi. Biji merupakan suatu organisasi yang teratur rapi, mempunyai persediaan bahan makanan yang cukup untuk melindungi serta memperpanjang kehidupannya. Proses ini merupakan salah satu aktivitas yang  menunjang kelangsungan hidupnya.
Kadar air biji merupakan salah satu komponen yang harus diketahui baik untuk tujuan pengolahan, maupun penyimpanan biji. Telah diketahui bahwa kadar air memiliki dampak besar terhadap biji selama perkecambahan. Penyerapan air oleh biji akan mempengaruhi proses perkecambahan mula-mula air masuk ke dalam biji secara imbibisi dan osmosis, kemudian terjadi pelunakan kulit biji, pengembangan embrio dan endosperm, dan pada akhirnya kulit biji pecah dan terjadi pengeluaran radikula.
Imbibisi oleh biji memiliki kemampuan atau batas penyerapan, ketika biji tersebut mencapai titik jenuh maka air yang masuk tidak lagi bertambah melainkan tetap pada keadaan semula. Penyerapan air oleh biji dipengaruhi dari berbagai factor. Faktor inilah yang natinya juga akan mempengaruhi biji untuk mencapai titik jenuh dalam penyerapan air.
Pada praktikum ini kami akan mengamati bagaimana penyerapan air oleh biji berkecambah. Kita akan melihat sampai dimana biji dapat menyerap air dan samapai dimana kejenuhannya terhadap air. Dari hasil pengamatan ini maka kita dapat mengkaji factor-faktor apa saja yang menyebabkan besarnya penyerapan air oleh biji dan tingkat kejenuhan biji terhadap air. Berdasarkan hal tersebut, maka praktikum Fisiologi tumbuhan ini dilaksanakan.


B.     Tujuan
Tujuan praktikum ini dilaksanakan adalah untuk mengetahui kecepatan imbibisi biji kering yang direndam air.
C.    Manfaat
Manfaat praktikum ini dilaksanakan adalah :
1.      Mahasiswa memahami kecepatan imbibisi biji kering yang direndam air.
2.      Dapat menambah wawasan mahasiswa mengenai aktivitas praktikum khususnya fisiologi hewan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Imbibisi adalah penyerapan air (absorbsi) oleh benda-benda yangpadat (solid) atau agak padat (semi solid) karena benda-benda tersebut mempunyai suatu zat penyusun dari bahan yang berupa koloid. Ada banyak hal yang merupakan proses penyerapan air yang terjadi pada makhluk hidup, misalnya penyerapan air dari dalam tanha oleh akar tanaman. Namun, penyerapan yang dimaksudkan disini yaitu penyerapan air oleh biji kering. Hal ini juga banyak kita jumpai dikehidupan kita sehari-hari yaitu pada proses pembibitan tanaman padi, pembuatan kecambah tauge, biji kacang hijau terlebih dahulu direndam dengan air. Pada peristiwa perendaman inilah terjadi proses imbibisi oleh kulit biji tanaman tersebut. Tidak hanya itu, proses imbibisi juga memiliki kecepatan penyerapan air yang berbeda-beda untuk setiap biiji tanaman (Rezky, 2011).
Transportasi tumbuhan adalah proses pengambilan dan pengeluaran zat-zat ke seluruh bagian tubuh tumbuhan. Pada tumbuhan tingkat rendah (misal ganggang) penyerapan air dan zat hara yang terlarut di dalamnya dilakukan melalui seluruh bagian tubuh. Pada tumbuhan tingkat tinggi (misal spermatophyta) proses pengangkutan dilakukan pembuluh pengangkut yang terdiri dari xilem dan floem (Rezky, 2011).
Biji adalah ovule yang dewasa.Terbentuk satu atau lebih di dalam satu ovari pada legume,tapi tidak pernah lebih dari satu biji terbentuk dalam ovari pada monokotil. Setiap biji matang selalu terdiri paling kurang dua bagian,yaitu: embrio dan kulit biji (Seed coat atau testa). Kulit biji terbentuk dari integumen (satu atau lebih) dari ovule. Pada legume umumnya terdapat dua lapis kulit biji. Lapisan sebelah dalam tipis dan lunak, sedangkan lapisan sebelah luar tebal dan keras fungsinya sebagai lapisan proteksi terhadap suhu, penyakit dan sentuhan mekanis. Setiap biji yang sangat muda dan sedang tumbuh, selalu terdri atas tiga bagian yaitu embrio, kulit biji (seed coat), dan endosperm. Endosperm yaitu suatu jaringan penyimpanan makanan cadangan (storage tissue) yang mana diserap oleh embryo sebelum atau selama perkecambahan biji dan selalu terdapat di dalam biji yang sangat muda. Pada legumes (kacang-kacangan), biji mempunyai 2 kotiledon tanpa endosperm. Kulit biji pada legume pada umumnya mudah dilepaskan dari biji setelah perendaman dengan air panas sehingga terlihat seluruh biji atau embryo (Gardiner, 1991).
Kadar air benih merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi daya simpan benih. Jika kadar air benih terlalu tinggi dapat memacu respirasi dan berbagai cendawan dapat tumbuh. Umumnya pada tanaman legume dan padi-padian, ovule atau tepatnya embryo sac yang sedang mengalami pembuahan mempunyai kadar air kira-kira 80 % dalam bebarapa hari kemudian kadar air ini meningkat sampai kira-kira 85% lalu pelan-pelan menurun secara teratur. Dekat kepada waktu masak kadar air ini menurun dengan cepat sampei kira-kira 20% pada biji tanaman sereallia,setelah tercapai berat kering maximum dari pada biji,kadar air tersebut agak konstan sekitar 20% tetapi sedikit naik terun seimbang dengan keadaan lingkungan di lapangan (Sasmitamihardja, 1996).
Menurut Salysburi (1995), air merupakan syarat terjadinya perkecambahan biji karena air berperan dalam:
1.      Melunakkan kulit biji embrio dan endosperm mengembang sehingga kulit biji robek.
2.      Memfasilitasi masuknya O2 ke dalam biji, gas masuk secara difusi sehingga suplai O2 pada sel hidup meningkat dan pernafasan aktif.
3.      Mengencerkan protoplasma
4.      Alat transport larutan makanan dari endosperm atau kotiledon
Biji merupakan suatu organisasi yang teratur rapi, mempunyai persediaan bahan makanan yang cukup untuk melindungi serta memperpanjang kehidupannya. Walaupun banyak hal yang terdapat pada biji, tetapi baik mengenai jumlah, bentuk maupun strukturnya, mempunyai satu fungsi dan tujuan yang sama yaitu menjamin kelansungan hidupnya. Kadar air biji merupakan salah satu komponen yang harus diketahui baik untuk tujuan pengolahan, maupun penyimpanan biji. Telah diketahui bahwa kadar air memiliki dampak besar terhadap biji selama perkecambahan. Penyerapan air oleh biji akan mempengaruhi proses perkecambahan mula-mula air masuk ke dalam biji secara imbibisi dan osmosis, kemudian terjadi pelunakan kulit biji, pengembangan embrio dan endosperm, dan pada akhirnya kulit biji pecah dan terjadi pengeluaran radikula (Anonima, 2011).
Menurut Anonimb (2011), faktor yang mempengaruhi kecepatan penyerapan air oleh Biji adalah:
1.      Permeabilitas kulit atau membran biji,
2.      Konsentrasi air, karena air masuk secara difusi (dari konsentrasi rendah ke tinggi), maka konsentrasi larutan di luar biji tidak lebih pekat dari dalam biji.
3.      Suhu air, Suhu air tinggi=energi meningkat, difusi air meningkat sehingga kecepatan penyerapan tinggi
4.      Tekanan hidrostatik, ketika volume air dalam membrane biji telah sampai pada batas tertentu, akan timbul tekanan hidrostatik yang mendorong ke luar biji, sehingga kecepatan penyerapan air menurun.
5.      Luas permukaan biji yang kontak dengan air, Berbanding lurus dengan kecepatan penyerapan air
6.      Daya intermolekuler, makin rapat molekul-molekulnya, makin sulit air diserap oleh biji
7.      Spesies dan varietas, Berhubungan dengan faktor genetik yang menentukan susunan kulit biji
8.      Tingkat kemasakan, biji makin masak, kandungan air berkurang, kecepatan penyerapan air meningkat
9.      Komposisi kimia biji
10.  Umur, Berhubungan dengan lama penyimpanan makin lama disimpan, makin sulit menyerap air

5.       
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.    Waktu dan Tempat
              Waktu dan tempat pelaksanaan praktikum ini adalah:
Hari/Tanggal                    : Senin, 06 Juni 2011
Waktu                              : Pukul 09.10 s.d. 10.50 WITA
Tempat                             : Laboratorium Biologi Lantai III Timur FMIPA UNM
B.     Alat dan Bahan
1. Alat
a.    Timbangan (neraca ohaus)
b.    Cawan petri
c.    Stopwatch
d.   Pinset
2.      Bahan
a.    Biji kacang merah (Phaseolus vulgaris)
b.    Aquadest
c.    Kertas saring
C.    Prosedur Kerja
1.      Menyiapkan seluruh alat dan bahan yang dibutuhkan
2.      Mengambil secara random 10 biji kacang merah, kemudian menimbangnya.
3.      Merendam biji kacang merah dalam cawan petri selama 5 menit.
4.      Mengeluarkan biji dari cawan petri dan meletakkan dalam kertas saring hingga air yang menmpel terserap.
5.      Menimbang dan menentukan berat kacang merah tadi.
6.      Melakukan beberapa kali hingga diperoleh berat yang tidak bertambah lagi.
7.      Mencatat hasilnya dalam laporan sementara dan membuat grafik yang menunjukkan hubungan antara waktu perendaman dan air yang diserap.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengamatan
Tabel Imbibisi Kecambah
No.
Menit ke-
Berat Awal (gr)
Berat Akhir (gr)
Perubahan Berat (gr)
1.
5
4,3
4,4
-
2.
10
4,5
4,4
0.2
3.
15
4,2
4,5
-0,1
4.
20
4,4
4,8
0,1
5.
25
4,4
4,9
0,1
6.
30
4,4
5,1
0,1
7.
35
4,4
6,2
1,1

Grafik hubungan antara waktu perendaman dengan air yang diserap
 

B.     Pembahasan
Beradasarkan hasil pengamatan, didapatkan data yang menunjukkan bahwa kacang merah (Phaseolus vulgaris) mengalami imbibisi atau penyerapan air oleh biji. Berat biji semakin bertambah setelah dilakukan perendaman selama beberapa menit. Pada saat biji belum di rendam, beratnya hanya 4,3 gram namun pada menit ke 5 perendaman, berat biji naik menjadi 4,5 gram disini telah terlihat penambahan berat biji akibat penyerapan air yang dilakukannya. Pada menit selanjutnya, justru terjadi pengurangan massa (gram) yaitu -0,1 gram. Menurut kak Sutrisno, pengurangan massa (gram) ini terjadi karena biji mengekrut untuk mempersiap imbibisi lebih jauh untuk perkembangan kecambah, dalam hal penambahan volume, sehingga hal ini bisa terjadi. Pada menit-menit selanjutnya yaitu menit 15 sampai 30 berat biji masih tetap 4,4 gram, dalam artian pertambahan massa biji 0,1 gram. Walaupun beratnya sudah tetap, kami masih mencoba merendam dan menimbangnya lagi untuk melihat masih mampukah biji tersebut dalam menyerap air sampai kami menemukan titik konstan yaitu tidak lagi terjadi pertambahan berat. Hal ini berarti ketika mencapai menit ke 15 biji telah jenuh dan tidak lagi menyerap air. Ketika biji tersebut mencapai titik jenuh maka air yang masuk tidak lagi bertambah melainkan tetap pada keadaan semula. Penyerapan air oleh biji dipengaruhi dari berbagai factor. Faktor inilah yang natinya juga akan mempengaruhi biji untuk mencapai titik jenuh dalam penyerapan air.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyerapan air yaitu permeabilitas kulit atau membran biji, konsentrasi air, suhu air, tekanan hidrostatik, Luas permukaan biji yang kontak dengan air, spesies dan varietas, tingkat kemasakan, komposisi kimia biji, dan umur. Dari berbagai faktor tersebut hal yang dapat mengakibatkan terjadinya jenuh air oleh biji yaitu tekanan hidrostatik karena ketika volume air dalam membrane biji telah sampai pada batas tertentu, akan timbul tekanan hidrostatik yang mendorong ke luar biji, sehingga kecepatan penyerapan air menurun (Anonim, 2011).
BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kecepatan imbibisi biji kering yang di rendam air dapat meningkat dan dapat menurun. Biji dalam menyerap air memiliki tingkat kejenuhan, ketika biji tersebut mencapai titik jenuh maka air yang masuk tidak lagi bertambah melainkan tetap pada keadaan semula. Hal tersebut dipengaruhi dari berbagai factor seperti tekanan hydrostatis, ketika volume air dalam membrane biji telah sampai pada batas tertentu, akan timbul tekanan hidrostatik yang mendorong ke luar biji, sehingga kecepatan penyerapan air menurun.
B.     Saran
1.    Praktikan sebaiknya bersungguh-sungguh dalam menjalani praktikum fisiologi tumbuhan, agar diperoleh ilmu yang optimum berdasarkan hasil pengamatan, dan dapat menguji teori dari perkuliahan.
2.    Kakak asisten sebaiknya membimbing praktikan dengan sepenuh hati dan memberikan penjelasan-penjalasan yang berkaitan dengan praktikum yang sedang dijalani, sehingga terjadi transfer ilmu secara tidak langsung.
DAFTAR PUSTAKA
Anonima. 2011. Perkecambahan Biji. Belantara kreatif .blogspot. com/2009/ 11/Biji. html - 53k-.  
Gardiner. Franklin P, dkk. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia UI Press.
Resky, Andi. 2011. Laporan Praktikum Imbibisi.
Salisbury, Frank B, dkk. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: Penerbit ITB Bandung.
Sasmitamihardja, D; Arbayati, S. 1996. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: ITB.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar